Seorang Bayi Meninggal setelah 3 Kali Dibenamkan di Air Suci saat Dibaptis, Gereja Ortodoks Dikecam

Seorang Bayi Meninggal setelah 3 Kali Dibenamkan di Air Suci saat Dibaptis, Gereja Ortodoks Dikecam

Seorang bayi di timur laut kota Suceava, Rumania, meninggal saat ritual pembaptisan. Bocah berusia enam minggu itu meninggal setelah tiga kali dibenamkan ke dalam air suci. Dilansir , sang bayi kemudian mengalami serangan jantung.

Ia dilarikan ke rumah sakit pada Senin (1/2/20210 lalu. Namun, dia meninggal beberapa jam kemudian. Hasil autopsi menungkapkan, terdapat cairan di paru parunya.

Gereja ortodoks yang melaksanakan ritual pembaptisan pada sang bayi pun dikecam. Jaksa telah membuka investigasi pembunuhan yang diduga dilakukan oleh pastor gereja. Bahkan, sebuah petisi online pun mencuat di jagad maya.

Petisi tersebut menyerukan perubahan ritual pembaptisan yang menelan nyawa itu. Hingga Kamis (4/2/2021), petisi telah mengumpulkan lebih dari 56.000 tanda tangan. "Kematian bayi yang baru lahir karena praktik ini adalah tragedi besar," kata sebuah pesan dalam petisi.

"Risiko ini harus disingkirkan, untuk sukacita pembatisan," imbuhnya. Netizen lain turut mengecam ritual gereja ortodoks tersebut. Ritual itu dianggap sebagai sebuah "kebrutalan".

Sementara itu, netizen lain mengkritik pembelaan orang orang yang menganggap bahwa "apa yang terjadi adalah kehendak Tuhan". Juru bicara gereja, Vasile Banescu, mengatakan bahwa para pastor bisa menuangkan sedikit air ke dahi bayi daripada harus membenamkan tubuh bayi sepenuhnya. Namun, Uskup Agung Teodosie, pemimpin sayap tradisionalis gereja, mengatakan ritual itu tidak akan berubah.

Lebih dari 80 persen orang Rumania adalah Ortodoks. Dan menurut jajak pendapat terbaru, gereja adalah salah satu lembaga yang paling terpercaya. Pelaku kekerasan seksual terhadap sejumlah anak di gereja di Depok, Jawa Barat, Syahril Parlindungan Martinus Marbun (SPM) diputuskan bersalah dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

SPM juga didenda Rp 200 juta dan restitusi sebesar Rp 17 juta. Hal tersebut diungkapkan kuasa hukum korban, Azas Tigor Nainggolan. Tigor mengungkapkan putusan hukuman lebih berat dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

"JPU kasus kekerasan seksual pada anak anak paroki St Herkulanus, sidang 2 Desember 2020 lalu membacanan tuntutan, menuntut terdakwa penjara 11 tahun dan membayar denda Rp 200 juta serta Restitusi sebesar Rp 24 juta bagi kedua korban atau subsider 3 bulan penjara," ungkapnya. Tigor menjelaskan, tuntutan didasarkan pada aturan Pasal 82 (2) UU No 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun. "Majelis Hakim menyatakan tindakan kejahatan yang dilakukan SPM memenuhi semua unsur dari pasal 82 UU No 36 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak sehingga terbukti bersalah dan dihukum maksimal yakni penajara 15 tahun," ungkapnya.

Adapun kasus kekerasan seksual ini berawal dari laporan seorang anak yang menjadi korban SPM. "Hari itu tanggal 24 Mei 2020 korban diantar kedua orang tuanya beserta kami tim pendamping dan advokat melaporkan kasus kekerasan seksual yang dialami kepada Polres Depok," ungkap Tigor. Sejak hari itu, kata Tigor, korban berjuang meraih keadilan atas masalah yang menimpanya.

"Si anak bersama orang tuanya dipenuhi harapan bisa membongkar serta menghentikan kejahatan kekerasan seksual yang terjadi pada anak anak misdinar yang menjadi korban kekerasan seksual dari pendamping mereka sendiri." "Anak anak dan keluarganya dihancurkan hidupnya oleh pendamping misdinar di Paroki St Herkulanus Depok," ungkap Tigor. Para korban memutuskan untuk membongkar dan membawa kasusnya diselesaikan secara hukum dan berjuang secara terbuka.

"Tidak menutupi fakta kekerasan seksual yang dialami dan melaporkannya ke polisi, adalah sikap berani berjuang bagi sesama dan memutus rantai kejahatan kekerasan seksual," ujar Tigor. Beberapa waktu kemudian, lanjut Tigor, ada dua korban yang ikut menjadi pelapor ke polisi. "Tetapi hanya satu korban anak yang bisa menjadi pelapor kedua dalam berkas kasus."

"Sementara satu orang korban lain hanya menjadi saksi karena kejadiannya sudah 14 tahun lalu," ungkap Tigor. Adapun diketahui Majelis Hakim yang memimpin sidang diketuai oleh Nanang Herjunanto. Sedangkan Hakim Anggota ialah Forci Nilpa Darma dan Nugraha Medica Prakasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *